Futuuhul Ghaib Risalah 68 Syeikh Abdul Qadir Jailani

Apabila Allah memperkenankan permohonan dan doa seorang hamba, maka ini tidak berarti bahwa  simpanan Allah itu akan berkurang, karena Allah itu Maha Kaya; dan juga tidak semestinya Allah merasa terpaksa menerima permohonan hamba itu, seakan-akan Dia takluk kepada permohonan hamba itu. Sebenarnya, permohonan atau doa hamba itu sesuai dengan kehendak Allah dan juga sesuai dengan  masanya. Sebenarnya, penerimaan doa itu telah tertulis dalam  azalinya,  dan  hanya  tinggal  menunggu masa dikabulkan doa itu oleh Allah. Inilah apa yang dikatakan oleh orang-orang ‘arif di  dalam  menerangkan kalam Allah, “Setiap saat Dia dalam keadaan baru.

Ini berarti bahwa Allah menerima permohonan hamba itu pada masa yang telah ditentukan-Nya. Allah telah menentukan masa dikabulkannya doa itu. Allah tidak akan memberi sesuatu kepada seseorang dalam dunia ini, kecuali dengan doa yang datang dari diri hamba itu sendiri. Begitu juga Allah tidak akan menolak sesuatu dari hamba itu, kecuali dengan doanya. Ada sabda Nabi yang menyatakan bahwa ketentuan takdir Illahi itu tidak akan terelakkan, kecuali dengan doa yang ditakdirkan Allah dapat menolak ketentuan takdir itu. Begitu juga, tidak ada orang yang akan masuk ke dalam surga hanya melalui perbuatan baiknya saja, melainkan dengan rahmat Allah juga. Walaupun demikian, hamba- hamba Allah itu akan diberi derajat di surga sesuai dengan amal perbuatannya.

Diriwayatkan bahwa Aisyah pernah bertanya kepada Nabi, “Dapatkah seseorang  itu  memasuki  surga  hanya dengan melalui perbuatan baiknya saja ?” Nabi menjawab, “Tidak, kecuali dengan rahmat Allah.” Aisyah bertanya lagi, “Sekalipun engkau sendiri ?” Beliau menjawab, “Ya, sekalipun aku, kecuali jika Allah meliputi aku dengan rahmat-Nya.” Setelah bersabda demikian, beliau meletakkan tangannya di atas kepalanya.

Beliau berbuat demikian untuk menunjukkan bahwa tidak ada seorangpun yang berhak  untuk  melanggar ketentuan takdir Illahi, dan Allah itu tidak harus memperkenankan doa-doa hamba-hamba-Nya. Dia berbuat apa yang di kehendakinya. Dia mengampuni siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dia menghukum siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dia memiliki kekuasaan yang mutlak. Segala ketentuan  kembali kepada-Nya. Allah tidak boleh ditanya  tentang  apa  yang  diperbuat-Nya,  tetapi  hamba  itulah  yang ditanya. Allah memberikan karunia-Nya kepada orang yang dikehendaki-Nya  dan  tidak  memberikannya kepada orang yang tidak dikehendaki-Nya juga.

Segala apa yang berada di langit  dan di  bumi serta di antara keduanya  adalah  kepunyaan Allah  belaka dan berada dalam kontrol-Nya. Tidak ada tuan-tuan yang memiliki semua itu, melainkan Allah saja. Dan  tidak ada pencipta, melainkan Dia juga. Firman Allah, “Hai manusia, ingatlah akan  nikmat  Allah  kepadamu. Adakah sesuatu pencipta selain Allah yang dapat  memberikan rizki  kepada kamu  dari langit   dan bumi ? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?(QS 35:3). Firman-Nya lagi, "Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di daratan dan lautan dan siapa (pula)kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya ?
Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain) ? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka  persekutukan (dengan-Nya).(QS 27:63). Firman-Nya lagi, “Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada  seorang  yang  sama  dengan  Dia  (yang  patut  disembah)?”  (QS 19:65). Selanjutnya Allah berfirman, “Kerajaan yang haq pada hari itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan adalah (hari itu), satu hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang kafir.(QS 25:26)